6/9/13

"kemariiin... ku lihat awan membentuk wajahmuuu... desau angin meniupkan namamuuu... tubuhku terpakuuu. semalaaam..." sambil memetik gitarnya, dia bernyanyi. tak perduli adiknya meneriakinya. "abaaang!!!! berisik!!!"

aku yang mendengarnya melalui telefon hanya tertawa geli. tertawa karena teriakkan adiknya dan juga suara sumbangnya.

"kok ketawa sih?" protesnya. "gapapa, lucu aja," jawabku. kemudian dia lanjutkan nyanyiannya. tetap tak memperdulikan adiknya dan suara sumbangnya.

suaranya memang tak semerdu Michael Bublé atau selembut Jason Mraz, tapi aku selalu menjadi penggemar nomor satu untuk suaranya. suara yang biasa mengantarku sebelum tidur, suara yang menenangkanku saat aku menangis, suara yang menghiburku dikala jenuh.

pernah suatu kali, saat pesta ulang tahun temanku, ia menyanyi. Separuh Aku milik Noah dibawakannya malam itu. entah aku yang sedang melankolis atau apa, aku menangis. tanpa sepengetahuannya, pasti. aku tidak ingin membuatnya risih dengan kehadiranku saat itu.

suaranya biasa saja, hanya menghanyutkan. menghanyutkan yang tidak universal, mungkin hanya untukku. entah sihir apa yang ada dalam suaranya sehingga bisa begitu menghanyutkanku.

aku selalu senang bisa bicara dengannya, entah melalui telefon atau bicara face-to-face.

ah, semua tulisan ini membuatku ingin berbicara padamu sekarang. sebuah "halo" sudah cukup. aku rindu.



No comments:

Post a Comment